KUMPULAN REFERENSI SKRIPSI DARI BERBAGAI JURUSAN,
DAN SEMUA TENTANG SKRIPSI ADA DI SINI

KERAGAMAN EKTOPARASIT PADA TIKUS YANG TERTANGKAP DI KECAMATAN GAYAMSARI, KOTA SEMARANG

I. PENDAHULUAN

Hasil spot survei Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 menunjukkan bahwa trap succes tikus (keberhasilan penangkapan) di Kota Semarang mencapai 74,62%, merupakan yang tertinggi kedua setelah Kabupaten Demak 93,85%. Angka trap succes di Kota Semarang mengindikasikan bahwa kepadatan relatif rodent khususnya tikus di daerah tersebut cukup tinggi..Berdasarkan trap success tersebut dilaporkan pula bahwa Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang merupakan wilayah dengan kepadatan tikus paling tinggi dibandingkan wilayah Kecamatan lainnya di kota Semarang. Hasil penelitian trap success di lingkungan rumah Kecamatan Gayamsari mencapai 7%.

Luas wilayah Kecamatan Gayamsari adalah 85 ha, sebelah Utara dibatasi oleh Kelurahan Sawah Besar, sebelah Selatan dibatasi oleh Kelurahan Pandean Besar, sebelah Barat dibatasi oleh Sungai Banjir Kanal Timur dan sebelah Timur dibatasi oleh Kelurahan Siwalan. Curah hujan tahunan rata-rata tergolong tinggi sebesar 2000-3000 mm. Curah hujan yang tinggi, akan berdampak pada tersedianya air yang cukup, hal ini berpengaruh terhadap dinamika populasi tikus. Menurut Priyambodo (1995), faktor lingkungan yang berupa faktor biotik dan abiotik akan mempengaruhi naik turunnya (dinamika) populasi tikus. Faktor abiotik yang penting dalam mempengaruhi dinamika populasi tikus adalah air untuk minum. Suatu populasi tikus akan beragam dalam struktur umur, fase perkembangan, atau komposisi genetik dari individu-individu penyusunnya, sehingga diduga mempunyai perbedaan keragaman komposisi ektoparasit yang menempatinya (Ristiyanto, 2004).

Tikus digolongkan ke dalam Ordo Rodentia (hewan yang mengerat), Familia Muridae dari kelompok mamalia (hewan menyusui), Menurut Priyambodo (1995) Ordo Rodentia merupakan Ordo dari Classis mamalia yang terbesar karena memiliki jumlah species (40%) dari 5.000 species untuk seluruh Classis mamalia. Kurang lebih delapan species dari 2.000 species Rodentia ini, yang paling berperan sebagai hama tanaman pertanian dan vektor patogen manusia. Kedelapan species tersebut adalah: Bandiota indica (tikus wirok), Rattus norvegicus (tikus riul), Rattus-rattus diardii (tikus rumah), Rattus tiomanicus (tikus pohon), Rattus argentiventer (tikus sawah), Rattus exulans (tikus ladang), Mus musculus (mencit rumah), dan Mus caroli (mencit ladang).

R. argentiver (tikus sawah), berukuran sedang dengan panjang kepala sampai ekor 270-370 mm, dan berat ± 130 gram. Ekor lebih pendek dari panjang badan. Panjang telapak kaki belakang dari tumit sampai ujung kuku jari terpanjang 32-36 mm, panjang telinga 18-21 mm. Susunan dan banyak puting susu (3+3) pasang = 12. Warna bulu kelabu dengan dada dan perut keputihan (Priyambodo, 1995).

R. exulans (tikus semak), berukuran lebih kecil, panjang tubuh dari ujung hidung sampai ujung ekor 220-285 mm. Ekor lebih panjang dari badannya. Panjang telapak kaki belakang 24-28 mm, panjang telinga 17-20 mm. Susunan dan banyak puting susu (2+2) pasang = 8. Hidup di semak-semak pinggir hutan dan rumah (Priyambodo, 1995).

Rattus rattus diardi (tikus rumah), panjang tikus ini mencapai 220-370 mm dari ujung hidung sampai ujung ekor. Ekor lebih panjang daripada tubuhnya. Panjang telapak kaki belakang sampai ujung kuku jari terpanjang 33-37 mm, dan telinga dengan ukuran panjang 19-23 mm. Susunan puting susu (2+3) pasang, jumlah puting susu 10. Bulu badan berwarna coklat kelabu tua. Tikus hidup terutama di rumah dan gudang, tetapi kadang juga di kebun atau sawah dekat perumahan (Priyambodo, 1995).

R. norvegicus (tikus riul), mempunyai ukuran panjang tubuh sampai ekor ±250-270 mm. Ekor selalu lebih pendek dari panjang kepala badan (Murakami, et al., 1992). Bulu badan atas coklat dan bawah kelabu. Telinga relatif kecil dan tipis. Tikus betina mempunyai 12 puting susu. Biasanya hidup pada bagian bawah bangunan (saluran irigasi, sampah, dan sungai-sungai).

R. tiomanicus (tikus kayu). Tikus ini relatif kecil dengan ukuran kepala sampai badan 170-180 mm dan panjang tungkai 31-33 mm. Ekor mempunyai panjang sama dengan kepala badan. Bagian atas coklat dan bawah berwarna putih suram. Tikus mempunyai 10 puting susu dengan susunan (2+3) pasang (Priyambodo, 1995).

B. indica (tikus wirok), merupakan tikus berukuran besar (raksasa) dengan panjang kepala sampai badan 240-300 mm dan tungkai belakang 49-56 mm. Ekor lebih pendek dari kepala badan. Rambut atas kasar berwarna hitam atau coklat. Tikus betina mempunyai 12 puting susu dengan susunan (3+3) pasang = 12 (Murakami, et al., 1992).

M. caroli (mencit rukyu), mempunyai tubuh yang seluruh bagian atasnya berwarna colat sedangkan bagian bawah putih/keperakan. Ekor sama panjang dengan badan. Ukuran tubuh kecil dengan berat tidak pernah mencapai 20 gram. Panjang kepala badan 95 mm. Mempunyai 10 puting pada tikus betina dengan susunan (3+2) pasang = 10 (Priyambodo, 1995).

M. musculus (mencit rumah), berbulu pendek dan berwarna coklat keabu-abuan pada bagian belakang. Ekor lebih panjang dari panjang kepala badan. Baik bagian atas maupun bawah berwarna gelap. Pada yang betina mempunyai puting susu dengan susunan (3+2) pasang (Priyambodo, 1995).

Tikus sebagaimana organisme yang lain, juga tidak lepas dari serangan ektoparasit. Ektoparasit merupakan parasit yang berdasarkan tempat manifestasi parasitismenya terdapat di permukaan luar tubuh inang, termasuk di liang-liang dalam kulit atau ruang telinga luar (Ristiyanto, 2005). Berbagai jenis ektoparasit dikenal sebagai vektor zoonosis yang berakibat fatal bagi manusia, seperti virus radang otak oleh caplak dan tungau, pes oleh pinjal, tifus belukar (scrubtyphus) oleh tungau dan kutu (Saim, 2004). Menurut Hadi dan Nalim ( 1983) dan Taher (1990), tungau juga dikenal sebagai penyebar riketsiasis, larva tungau sebagai penyebar demam semak (tsutsugamushi disease), caplak menularkan tickborne disease, dan kutu menularkan penyakit murine typhus.

Kutu adalah serangga dari ordo Anoplura yang selama hidupnya menempel pada rambut inang. Tubuh kutu terbagi tiga bagian yaitu kepala, dada, dan perut berukuran 0,5 mm – 1 mm. Kutu pipih di bagian perut (dorso ventral) dan kepala lebih sempit daripada dada, tidak bersayap dan di ujung kaki kakinya terdapat kuku besar untuk bergantung pada rambut inang, bergerak lambat, berwarna putih dan umum ditemukan menempel pada rambut punggung dan perut (Boediono, 2007).

Kutu semuanya tidak bersayap, mempunyai tubuh pipih dorsoventral, antena pendek dengan tiga ruas sampai lima ruas, dan mata tereduksi atau tidak ada. Toraks, bersegmen yang tidak jelas, mengandung satu pasang spirakulum. Kaki pendek mempunyai tarsus yang cakarnya digunakan untuk berpegangan pada bulu atau rambut. Abdomen, selalu tanpa sersi, umumya mengandung enam pasang spirakulum. Semua kutu tinggal selama hidup pada tubuh hospesnya, dan infestasi dari hospes satu ke hospes lain dilakukan dengan kontak langsung. Kutu dari jenis Polyplax spinulosa pada tikus hitam dan tikus coklat menularkan rickettsia yang menyebabkan tifus (Noble, 1989).

Tungau adalah Arachnida kecil dengan panjang berkisar 0,5-2 mm. Berbentuk ovoid sampai globuler, tekstur tubuh tampak membranosa. Kepala kecil mata sederhana, tetapi kadang-kadang mata ini tidak ditemukan. Lempeng anal, lempeng sternal dan lempeng genitoventral pada tungau dewasa dapat digunakan untuk membedakan jenisnya. Tungau dewasa memiliki empat pasang kaki, sedang larvanya hanya tiga pasang kaki. Tungau ini aktif bergerak dan berwarna putih kekuningan atau berwarna kecoklatan. Tungau parasit mempunyai ciri khusus adanya tonjolan seperti cakar yang besar pada pasangan kaki pertama, yang bermanfaat untuk mencengkeram rambut hospes (Hadi, 1989). Tungau dapat menyebar ke semua habitat (worldwide distribution), sebagai konsekuensi dari ukurannya yang kecil, tidak seperti Arthropoda pada umumnya, diantaranya menempati habitat yang dihasilkan oleh binatang lain (sarang, liang, dan sebagainya) (Ristiyanto, 2005).

Beberapa ektoparasit dari Genus pinjal yang berinang pada tikus adalah Leptopsylla, Nosopsyllus, dan Xenopsylla (Chandler dan Clark, 1961; WHO, 1972; Brown, 1983; Harrison et al., 1982), sedangkan kutunya kebanyakan berasal dari Ordo Haplopleuridae, seperti Haplopleura dan Polyplax (Chandler dan Clark, 1961; Flynn, 1973) dan dari Acarina adalah Laelaps (Nadchatram et al., 1983). Weber (1982), menemukan dua kelompok Arthropoda ektoparasit pada tikus, yaitu serangga (pinjal dan kutu), serta tungau (larva tungau, tungau dewasa) dan caplak.

Kelompok ektoparasit pada tikus tersebut biasanya memilih dan menempati jaringan tertentu. Hasil penelitian mikrodistribusi ektoparasit pada tikus oleh Ristiyanto et al. (1999) menunjukkan bahwa kelompok tungau dan kutu menyukai dan menetap di punggung dan perut, caplak di leher, larva tungau di dalam ruang telinga dan pangkal ekor, sedangkan pinjal terdistribusi di seluruh tubuh, kecuali ekor. Ditunjukkan pula bahwa pada tubuh tikus ditemukan lima Familia yaitu Dermanysidae, Laelapidae, Macrochelidae, Acaridiae dan Cheyletidae, dengan delapan jenis ektoparasit; Familia Trombiculidae dengan sembilan jenis ektoparasit, Familia Ixodidae dengan satu caplak, Familia Haplopleuridae dengan dua kutu, dan empat pinjal dari tiga Familia (Pulicidae, Pygiopsyllidae, Hystrichopsyllida). Hasil penelitian Wahyuni (2008) menunjukkan bahwa di berbagai lokasi di Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas ditemukan 6 jenis ektoparasit meliputi Polyplax spinilosa (kutu), Xenopsylla cheopis (pinjal), Echinolaelaps echinidus, Radfordia ensifera, Ornithonyssus bacoti dan Chirodiscoides caviae (tungau) yang menginfestasi tikus jenis Rattus rattus diardii, Rattus argentiventer, dan Mus musculus.

Pinjal merupakan organisme berukuran kecil berwarna coklat tanpa sayap, 2.0-2.5 mm dengan badan yang pipih lateral. Pinjal jantan lebih kecil dari pinjal betina. Kepalanya kecil dan keras mempunyai mata dan sisir; semua mempunyai antena dan bagian mulut untuk menghisap. Tiap ruas thoraks yang bersegmen mempunyai sepasang kaki kuat yang berakhir dengan dua kuku lengkung (Brown, 1983).

Pinjal memiliki khitin yang tebal. Tiga segmen thorak dikenal sebagai pronotum, mesonotum dan metanotum (metathoraks). Segmen yang terakhir tersebut berkembang baik untuk menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut meloncat.. Tepat di atas mulut pada beberapa jenis terdapat sebaris duri kuat berbentuk sisir lainnya, yaitu ktenidium genal, sedangkan di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat nernbentuk sisir, yaitu ktenidium pronotal. Duri-duri tersebut sangat berguna untuk membedakan jenis pinjal. Pinjal betina mempunyai sebuah spermateka seperti kantung dekat ujung posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan sperma, dan yang jantan mempunyai alat seperti per melingkar, yaitu aedagus atau penis berkhitin di lokasi yang sama. Kedua jenis kelamin memiliki struktur seperti jarum kasur yang terletak di sebelah dorsal yaitu pigidium pada tergit yang ke sembilan. Fungsinya tidak diketahui secara pasti tetapi kemungkinan sebagai alat sensorik (Levine, 1994).

Leptopsylla segnis, adalah golongan kutu parasit terhadap tikus rumah, mencit dan binatang pengerat lainnya (Brown, 1983). Berdasarkan penelitian Saim dan Suyanto (2004), diperoleh empat species (dua jenis, dua suku) pinjal (Siphonoptera), yaitu dua Ceratophyllus sp. (suku Ceratophyllidae) pada dua Tupaia glis, dan dua Xenopsylla sp. (suku Pulicidae) pada seekor Maxomys whiteheadi. Pinjal parasitik pada mamalia, burung dan kadang-kadang reptil. Di Indonesia dikenal sekitar 70 jenis pinjal, antara lain yang 16 jenis dilaporkan menyebar di Sumatera.

Menurut Savory (1977), tungau dan caplak merupakan Arachnida kecil, sebagian akuatik dan sebagian lain parasitik. Tubuh inang dijadikan oleh sebagian jenis tungau sebagai tempat hidup dan berkembang biak, seperti Laelaps echidinus yang banyak dijumpai pada bagian punggung dan perut tikus. Tungau Familia Trombiculidae stadium dewasanya hidup di lapangan rumput atau semak-semak yang sering didatangi hewan piaraan/rodensia liar. Berbagai perbedaan jenis inang dan habitat inangnya dapat menyebabkan keragaman ektoparasit termasuk keragaman ektoparasit pada berbagai jenis tikus.

Menurut Magurran (1988), keragaman adalah banyaknya individu suatu spesies (kelimpahan) dan banyaknya spesies yang terdapat dalam suatu ekosistem tertentu. Komponen kelimpahan suatu spesies dan banyaknya spesies tersebut terjadi karena adanya interaksi antara satu dengan yang lainnya, termasuk dengan lingkungan habitat inangnya. Keragaman suatu jenis ektoparasit dapat menggambarkan adanya spesifitas ektoparasit terhadap inang ataupun sebaliknya serta kemampuan toleransi ektoparasit terhadap inangnya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diajukan permasalahan sebagai berikut :

1. Jenis ektoparasit apa saja yang dapat ditemukan pada tikus yang tertangkap di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

2. Bagaimana keragaman ektoparasit yang ditemukan pada tikus yang tertangkap di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui jenis ektoparasit yang dapat ditemukan pada tikus yang tertangkap di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

2. Mengetahui keragaman ektoparasit pada tikus yang tertangkap di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang jenis-jenis tikus yang tertangkap dan keragaman ektoparasit yang ditemukan di Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.


dapatkan file lengkapnya

klik disini

 
CARA SINGKAT BELAJAR BAHASA INGGRIS segera bergabung bersama kami..!!!!