KUMPULAN REFERENSI SKRIPSI DARI BERBAGAI JURUSAN,
DAN SEMUA TENTANG SKRIPSI ADA DI SINI

PESAN NOVEL LINGKAR TANAH LINGKAR AIR KARYA AHMAD TOHARI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AKHLAK BESERTA METODE PENYAMPAIANNYA


PENDAHULUAN

A. Penegasan Istilah

Penegasan istilah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghindari banyaknya penafsiran, sehingga tidak sesuai dengan fokus dan ruang lingkup penelitian, adalah sebagai berikut:

  1. Studi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, studi mempunyai makna kajian, telaah, penyelidikan ilmiah.[1]

Yang dimaksudkan studi dalam penelitian ini adalah penelaahan atau penyelidikan ilmiah terhadap novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari dalam konteks pendidikan akhlak. Penyelidikan dalam penelitian ini menekankan pada upaya pengkajian nilai-nilai pendidikan akhlak dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

  1. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air Karya Ahmad Tohari

Novel merupakan sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek.[2] Novel yang merupakan karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun seperti unsur peristiwa, tokoh, plot, tema, latar, sudut pandang yang cukup kompleks dan rumit.[3]

Adapun novel Lingkar Tanah Lingkar Air, merupakan salah satu dari novel-novel karya Ahmad Tohari yang diterbitkan oleh LKiS tahun 1999. Ahmad Tohari adalah seorang novelis atau pengarang novel dan cerpenis. Ada sejumlah novel yang telah dihasilkannya antara lain Kubah, Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jentera Bianglala, Bekisar Merah, Belantik. Sedangkan kumpulan cerpennya di antaranya adalah Senyum Karyamin, Nyanyian Malam dan lain-lain.

Novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini mengisahkan pergulatan batin tokoh-tokohnya; Amid, Kiram dan Jun untuk memilih kemungkinan menyerahkan diri ke pangkuan Republik atau tetap bertahan di hutan-hutan sebagai prajurit Darul Islam (DI) dengan kondisi yang makin terdesak. Pada akhirnya, mereka pun menyerahkan diri dengan resiko memperoleh cemooh dan cibiran dari masyarakat. Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka berkesempatan membuktikan keberanian mereka ikut menumpas pemberontakan G 30 S/PKI pada tahun 1965 bersama pasukan Republik. Meskipun tokoh Amid harus menghadapi kematian, muncullah semacam kebahagiaan karena telah melakukan suatu jihad.

Novel ini pernah didiskusikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada Bulan Buku Nasional 1995, dengan pembicara Sukristanto dan Yudiono K S. Menurut Sukristanto (1995), novel ini relevan bagi masyarakat pembaca karena kaya informasi otentik sekitar revolusi kemerdekaan meskipun di sana-sini terdapat kejanggalan waktu jika disimak secara cermat.[4] Sementara itu, Yudiono K.S. (1995) memandang novel ini sebagai potret ketidakberdayaan individu menghadapi berbagai perubahan politik di sekitarnya.[5]

Belakangan, novel ini pun memikat perhatian Purwantini dari Universitas Airlangga, Surabaya, yang menulis makalah untuk Pertemuan Ilmiah Nasional XI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia di Surakarta, 2-3 Oktober 2000. Purwantini (2000) berpendapat bahwa kesempatan Amid, Kiram dan Jun ikut serta menumpas pemberontakan PKI pada akhir tahun 1965 dimaksudkan sebagai pembelaan pengarang terhadap pejuang-pejuang Darul Islam yang dahulu dianggap pemberontak.[6] Sebenarnya, perlawanan mereka terkait dengan ketidaktegasan sikap politik Pemerintah RI (Sukarno-Hatta) terhadap kelicikan orang-orang komunis yang mencatut nama Darul Islam untuk berbagaimkejahatan; seperti perampokan, pembakaran hutan dan pemerkosaan.

Menurut penulis, novel ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat novel ini mengandung nilai-nilai kehidupan yang tampak dalam diri pelaku-pelaku maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel ini sebagaimana ungkapan dari beberapa peneliti di atas.

3. Perspektif Pendidikan Akhlak

Perspektif diartikan sebagai sudut pandang, tinjauan atau pandangan.

Sedangkan pendidikan akhlak, pernyataan ini terdiri dari dua buah kata, yaitu kata pendidikan dan kata akhlak. Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.[7]

Sedang kata akhlak berarti salah satu bagian dari Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang budi pekerti yang juga merupakan salah satu program Pendidikan Dasar Umum yang berfungsi sebagai dasar pembinaan seorang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Jadi pendidikan akhlak adalah suatu usaha yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak untuk mendewasakannya dari segi tingkah laku sehingga terbentuk manusia yang berkepribadian muslim, yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.[8] Dengan demikian yang dimaksud dengan perspektif pendidikan akhlak adalah dalam penelitian ini menggunakan sudut pandang akhlak dalam mengungkapkan isi pesan yang ada dalam novel.

Dengan demikian yang dimaksud dengan judul di atas adalah suatu. kajian ilmiah tentang nilai pendidikan akhlak dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air.

B. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama moral yang mementingkan isi, bukan penampilan saja, serta membentuk jiwa dengan nilai-nilai moral bukan kerendahan dan cita-cita sosial Islam yang dimulai dengan perjuangan menumbuhsuburkan aspek-aspek aqidah, etika dalam diri pemeluknya.[9] Sedangkan pendidikan merupakan proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindah nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[10]

Menurut Islam, pendidikan (mencari ilmu) merupakan salah satu kegiatan yang wajib hukumnya untuk dilakukan bagi pria dan wanita dan berlangsung seumur hidup, semenjak dari buaian sampai ajal datang (prinsip pendidikan; long life education).[11] Hal itu menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan merupakan hal yang penting dilakukan dilakukan manusia dalam rangka memanusiakan manusia itu sendiri. Artinya pendidikan sangat perlu dilakukan mengingat pentingnya pengetahuan bagi manusia dalam memenuhi segala kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun spiritual.

Dalam era modern seperti sekarang ini, nampaknya dalam masyarakat telah terjadi tindakan-tindakan atau perilaku yang mengarah pada kemerosotan akhlak manusia, terbukti dengan semakin maraknya tindakan yang berupa penganiayaan, pemaksaan kehendak, pelanggaran hak-hak asasi manusia antara yang berkuasa dan yang dikuasai, antara yang kuat terhadap yang lemah, antara yang bermodal kuat terhadap yang bermodal lemah, antara majikan dengan buruhnya. Di samping itu juga telah terjadi krisis identitas, hilangnya rasa percaya diri dan makin berkembangnya sikap frustasi di kalangan generasi muda saat ini, yang terbukti dengan makin populernya minum-minuman keras dan zat-zat narkotik, serta munculnya kelompok-kelompok gank di kalangan remaja.

Di samping semua hal yang telah terjadi di atas, yang sangat memprihatinkan juga terjadi pergeseran nilai-nilai sosial dan susila dalam masyarakat, seperti adanya indikasi makin berkembangnya budaya serba bebas; bebas bergaul antara pria dan wanita, bebas berbuat tanpa batas dan sebagainya, yang telah menimbulkan bencana bagi umat manusia, yaitu dengan munculnya penyakit AIDS yang sangat menakutkan banyak orang, ataupun munculnya bencana yang lain akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kalau mengingat itu semua, kini makin disadari betapa pentingnya nilai-nilai agama serta semangat akhlakul karimah dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif (sosial). Pembangunan kembali terhadap akhlak manusia dari puing-puing kehancuran kini dirasakan lebih penting daripada hanya membangun kesejahteraan fisik semata. Sebab apalah artinya pembangunan kesejahteraan fisik manusia spektakuler, yang telah dicapai oleh manusia zaman modern ini bila akhirnya manusia tidak dapat menikmatinya. Dan bahkan justru akan menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri.

Pembangunan akhlak manusia dapat ditempuh dengan pendidikan, di mana pendidikan merupakan suatu proses atau upaya dalam membantu peserta didik menemukan kedewasaan. Melalui pendidikan, diharapkan peserta didik dapat menjadi manusia yang memiliki pribadi yang bertanggung jawab, baik kepada Tuhannya, sesama ciptaan-Nya, maupun lingkungannya.

Kongres Pendidikan Islam Sedunia tahun 1980 di Islamabad menetapkan pendidikan sebagai berikut:

“Pendidikan harus ditujukan ke arah pertumbuhan yang berkeseimbangan dari kepribadian manusia yang menyeluruh melalui rasio, perasaan dan pancaindra. Oleh karenanya, maka pendidikan harus memberikan pelayanan kepada pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya yaitu aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, linguistic, baik secara individu maupun kolektif, serta mendorong semua aspek itu ke arah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan.” [12]

Dengan melihat pola tujuan pendidikan di atas, nampak bahwa pendidikan dapat ditempuh melalui lembaga-lembaga pendidikan baik formal, informal maupun nonformal. Dapat diartikan bahwa untuk memperoleh pendidikan tidak hanya dari sekolah saja atau waktu sekolah saja, tetapi pendidikan dapat diperoleh kapan saja dan di mana saja, dengan syarat pengaruh yang didapat harus memiliki nilai manfaat dan bernilai positif bagi peserta didik dalam perkembangannya menuju kedewasaan.

Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor atau komponen, baik yang bersifat internal maupun yang sifatnya eksternal yaitu komponen-komponen pendidikan yang ada pada lingkungan pendidikan maupun pribadi pendidik atau peserta didik. Salah satu di antara komponen-komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan adalah media pendidikan.[13] Media pendidikan ini dapat berupa buku ataupun benda-benda yang dapat dimanfaatkan dalam menunjang keberhasilan pendidikan, termasuk media cetak, seperti majalah, buletin, bahkan novel juga dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan.

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang tertulis yang di dalamnya mengandung ide-ide, gagasan, pesan-pesan, ataupun ajaran-ajaran yang diungkapkan dalam bentuk cerita. Novel merupakan sebuah karya imajiner yang menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan, yang merupakan hasil dialog, kontemplasi dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan.[14]

Sejalan dengan hal di atas, pengarang Ahmad Tohari ingin menyampaikan pesan-pesan dan misi keagamaan (Islam) melalui karya-karyanya, salah satunya adalah novelnya yang berjudul Lingkar Tanah Lingkar Air. Dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air, tampak kehidupan religius pada diri para pelakunya, diantaranya adalah Kiai Ngumar yang senantiasa memberikan nasehat-nasehat keagamaan pada santri-santrinya, satu diantaranya adalah Amid, sejak Amid masih kecil. Ketika mengalami kebingungan-kebingungan, seperti ketika ia ragu untuk memilih antara menjadi laskar DI/TII atau menjadi tentara RI, ia tidak lupa dan malu untuk meminta nasehat pada gurunya yaitu Kiai Ngumar.

Novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini mengisahkan pergulatan batin tokoh-tokohnya; Amid, Kiram dan Jun untuk memilih kemungkinan menyerahkan diri ke pangkuan Republik atau tetap bertahan di hutan-hutan sebagai prajurit Darul Islam (DI) dengan kondisi yang makin terdesak. Pada akhirnya, mereka pun menyerahkan diri dengan resiko memperoleh cemooh dan cibiran dari masyarakat. Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka berkesempatan membuktikan keberanian mereka ikut menumpas pemberontakan G 30 S/PKI pada tahun 1965 bersama pasukan Republik. Meskipun tokoh Amid harus menghadapi kematian, muncullah semacam kebahagiaan karena telah melakukan suatu jihad.

Munculnya kata Darul Islam (DI) pada awal kisahan novel Lingkar Tanah lingkar Air merupakan informasi yang pentinfg bagi pembaca, baik generasi tua yang sudah mengetahui perihal Darul Islam maupun generasi muda yang hanya mengetahui DI dari buku pelajaran sejarah. Secara teoritis pula dapat dipastikan bahwa pembaca masa kini hanya mendengar dan mengetahui perihal DI dari penuturan lisan dan buku sejarah. Sangat mungkin pengetahuan pembaca hanya terbatas pada identitas DI sebagai maker yang bergaris keras pada dekade 1950-an, dengan tokohnya yang terkenal yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Gerakan atau pemberontakan tersebut pernah merajalela di daerah Jawa Barat dan sebagian wilayah barat Jawa Tengah. Tujuannya hendak mendirikan sebuah negara yang berdasarkan syariat agama Islam.

Akan tetapi, novel Lingkar Tanah Lingkar Air tidak bercerita tentang DI sebagai ideologi atau gerakan politik, sebab novel ersebut memang bukan novel sejarah. Dengan sejumlah kelebihan dan kekurangannya, novel Lingkar Tanah Lingkar Air telah mengungkapkan dunia batin para tokoh yang konflik internalnya ternyata pantas dipahami sebagai bahan renungan pembaca. Masalah itu dapat dipastikan tidak pernah terungkap dalam buku pelajaran sejarah atau buku-buku politik. Bagi pembaca masa kini, barangkali masalah itu sudah tidak aktual lagi mengingat jarak waktu yang sudah lama. Namun, esensinya boleh dikatakan tetap relevan dengan kehidupan masa kini dengan segala macam konflik batin individu yang mungkin berbungkus organisasi, partai ataupun ideologi.

Orang boleh saja menarik batas yang tegas antara kebenaran dan kesalahan individu dalam konteks ideologi tertentu. Padahal keberadaan individu tidak terlepas dari proses panjang interaksinya dengan lingkungan sosial tertentu. Hal semacam itulah yang muncul dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air, yaitu proses perjalanan dan interaksi para tokoh dengan lingkungan sosial di jaman pasca kemerdekaan sehingga muncul tokoh-tokoh yang terlibat konflik untuk mempertahankan diri sebagai laskar DI atau kembali menjadi orang-orang Republik.

Melalui novel ini, Ahmad Tohari mengajak para pembacanya untuk dapat belajar merasakan dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan melalui perjuangan para tokohnya dalam memaknai hidup dan berjuang mencari jati dirinya serta upaya para tokoh dalam mencapai kedudukan sebagai Insan Kamìl. Melalui novel ini juga, Ahmad Tohari ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana beratnya perjuangan hidup manusia dalam memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, baik sebagai khalifah Allah SWT di bumi, maupun sebagai ciptaan yang menyembah kepada Khaliqnya. Hal ini sesuai dengan adanya pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berbakti pada Tuhan dan berhubungan dengan alam.

Namun sangat disayangkan, masih banyak orang yang tidak menyadari dan hanya melihat novel sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang saja. Mereka tidak menyadari akan adanya manfaat lain dari membaca novel. Sehingga yang mereka peroleh dari membaca novel hanyalah rasa terhibur sejenak, tanpa adanya sesuatu hal yang membekas dalam diri mereka. Itu terjadi karena kurangnya pemahaman para pembaca dan pencinta novel terhadap arti keberadaan novel itu sendiri. Sehingga sewaktu membaca novel, yang terjadi hanyalah pergulatan emosi dan perasaan tanpa melibatkan rasio untuk memahami, menelaah dan menganalisis pesan apa yang terkandung dalam sebuah novel.

Padahal kalau dikaji lebih lanjut, novel sebagai bentuk karya sastra dibuat bukan sekedar untuk dinikmati saja, melainkan juga untuk dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Dengan kata lain, novel bersifat menyenangkan dan bermanfaat. Novel bersifat menyenangkan karena dengan membaca novel pembaca akan memperoleh suatu hiburan. Novel bermanfaat karena dengan membaca novel pembaca akan memperoleh nilai-nilai kehidupan agung yang sering terlepas dari pengamatan sastrawan. Melalui novel, pengarang berusaha memberikan amanat kepada pembacanya. Namun pesan moral atau amanat yang disampaikan melalui cerita tentulah memiliki efek yang berbeda bila dibandingkan dengan penyampaian secara langsung.

Dalam hal ini novel, khususnya Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari ini sebagai sarana cerita tidak bersifat menggurui para pembaca, melainkan memberikan sesuatu yang secara tidak langsung menyentuh hati para pembacanya. Dengan demikian akan timbul keinginan yang secara sadar dan tanpa paksaan untuk merenungkan dan memetik hikmah dari isi makna cerita yang dibacanya.

Novel-novel karya Ahmad Tohari kebanyakan mengandung nilai-nilai Islam yang dominan. Selain itu kebanyakan karya-karya Ahmad Tohari memiliki kekuatan pada latar desanya serta alam pikir pemeran-pemeran utamanya. Ahmad Tohari sangat menguasai alam desa beserta aspek sosiologis, sosial agama yang menguasai kehidupan sehari-hari.

Novel sebagai pengejawantahan pengalaman yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dapat dijadikan sebagai suatu bentuk budaya (produk kehidupan) yang menjanjikan peluang cukup baik untuk media pendidikan dan penanaman nilai-nilai kehidupan, khususnya bagi anak usia sekolah menengah yang sedang berada pada keadaan yang tidak stabil. Maka penelitian terhadap novel dikaitkan dengan perspektif pendidikan Islam atau pendidikan akhlak menjadi sangat penting.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut di atas, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa yang melatarbelakangi penulisan novel Lingkar Tanah Lingkar Air?

2. Bagaimana isi dan pesan novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari?

3. Materi pendidikan akhlak apa saja yang ada dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari dan bagaimana bentuk penyampaian nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam isi novel Lingkar Tanah Lingkar Air?

D. Alasan Pemilihan Judul

Ada beberapa hal yang mendorong penulis untuk memilih judul tersebut di atas, antara lain:

1. Novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari dapat dimanfaatkan sebagai wahana pendidikan atau penanaman nilai-nilai pendidikan Islam, khususnya pendidikan akhlak, baik dalam alur cerita yang dipaparkan, tokoh yang diperankan, maupun tema-tema yang ditampilkan, sehingga perlu dikaji perihal nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya.

2. Novel biasanya hanya dianggap sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang saja, maka penulis ingin menepis anggapan tersebut sekaligus untuk membuktikan bahwa novel juga mampu memberi manfaat.

3. Novel dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembacanya, yang terjadi secara tidak langsung dan kadang tidak disadari oleh pembaca. Sehingga penulis ingin mengetahui seperti apa pengaruh-pengaruh positif atau manfaat novel bagi pembaca ditinjau dari pendidikan Islam, khususnya pendidikan akhlak.

E. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan latar belakang penulisan novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

2. Untuk mendeskripsikan isi dan amanat novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari dalam perspektif pendidikan akhlak.

3. Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penyampaian nilai-nilai pendidikan akhlak dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi pecinta sastra pada umumnya, diharapkan akan lebih mudah dalam memahami nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra, khususnya nilai-nilai pendidikan aqidah akhlak baik yang tersurat maupun yang tersirat.

2. Bagi Pendidikan Agama Islam, diharapkan guru dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai alternatif sumber bahan pelajaran dalam rangka penanaman nilai-nilai Islami pada siswa melalui karya sastra, mengingat novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini sarat dengan nilai-nilai pendidikan agama Islam termasuk nilai pendidikan akhlak.

3. Bagi mahasiswa, dapat memberikan wawasan tentang keberadaan sastra Islami.

4. Hal-hal yang ada dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu behan acuan bagi pelaksanaan penelitian-penelitian yang relevan dimasa datang.

F. Kerangka Teori

1. Pendidikan Akhlak

a. Pengertian Pendidikan Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab Akhlaq yang merupakan bentuk jamak dari Khuluqun yang bermakna budi pekerti, perangai dan kesusilaan. Pengertian akhlak menurut istilah, beberapa ahli memberikan suatu batasan yang berbeda-beda meskipun pada dasarnya mempunyai inti makna yang hampir sama. Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak merupakan suatu kebiasaan kehendak atau menangnya keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan berlangsung berturut-turut.[15] Dengan kata lain, kemenangan keinginan atas keinginan lainnya dalam jiwa manusia tersebut berlangsung secara berturut-turut atau berulang-ulang, sehingga hal tersebut menjadi suatu kebiasaan dan kebiasaan tersebut membentuk satu watak yang lekat dalam jiwanya.

Sedangkan menurut imam Al Ghozali, akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah bertindak tanpa banyak pertimbangan.[16]

Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak adalah suatu kondisi yang terbentuk dalam jiwa manusia, yang lekat dan mendalam di dalam lubuk hati manusia, sehingga dari kondisi yang telah terbentuk tersebut dapat menimbulkan berbagai perilaku baik berupa ucapan maupun tindakan dengan mudah dan gampang tanpa berpikir panjang lebar. Terbentuknya kondisi jiwa tersebut atau yang disebut sifat ataupun watak manusia tersebut bukan terjadi atau ada dengan begitu saja, tetapi didahului dengan suatu proses. Dan watak manusia yang merupakan hasil bentukan suatu proses tersebut bukanlah merupakan hasil yang final atau harga mati.

Pendidikan merupakan segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani anak-anak tersebut ke arah kedewasaan.[17] Azyumardi Azra mengemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu. Menurut Omar Muhammad At Toumyi Asy Syaibani, pendidikan Islam diartikan sebagai upaya mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan bermasyarakat dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan, yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam.[18]

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan terdapat unsur. Adanya usaha (kegiatan), baik itu bersifat bimbingan, pengajaran maupun latihan yang dilakukan secara sadar.

1) Ada pendidik, pembimbing atau pelatih.

2) Ada yang dididik atau si terdidik.

3) Memiliki tujuan.

4) Ada alat-alat yang dipergunakan.

Ditinjau dari segi fungsinya, maka secara umum pendidikan mempunyai dua fungsi. Fungsi pendidikan yang pertama adalah fungsi normatif, yakni pendidikan berdasar atas pemilihan nilai yang baik dan tidak baik bagi anak pada khususnya dan bagi manusia pada umumnya. Fungsi normatif lebih menekankan pada pewarisan nilai-nilai yang baik kepada anak agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Fungsi kedua adalah fungsi praktis; pendidikan berfungsi praktis penekanannya terletak pada pelaksanaan pendidikan secara praktis dan teknis agar dapat diperoleh format pendidikan yang berdaya dan berhasil guna.[19] Adapun yang dimaksud dengan pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat, yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan anak sejak kecil hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi kehidupan.[20]

b. Dasar atau Sumber Pendidikan Akhlak

Akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dengan mengakui bahwa Allah SWT adalah Pencipta, Pemilik, Pemelihara, Pelindung, Pemberi Rahmat, Pengasih dan Penyayang terhadap semua makhluk-Nya. Segala apa yang ada di dunia ini, dari biji dan binatang yang melata di bumi sampai kepada langit yang berlapis semuanya milik Tuhan dan diatur oleh-Nya.

Agama Islam juga merupakan petunjuk jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam hidupnya. Semua ini terkandung di dalam ajaran Al Qur’an yang diwahyukan Allah SWT dan ajaran Sunnah yang diturunkan dari apa-apa yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW. Menurut bahasa Endang Syaifuddin Anshori, sumber pokoknya adalah Al Qur’an dan Sunnah, sedang sumber lainnya adalah ijtihad.[21]

Islam merupakan ajaran yang bersifat Rabbani, datang dari Allah SWT. Islam bukanlah ajaran produk pikiran manusia dan bukan produk lingkungan atau masa tertentu, melainkan merupakan petunjuk yang diberikan kepada manusia sebagai karunia dan rahmat (kasih sayang) dari Allah SWT kepada mereka.

Di dalam Islam, Al Qur’an merupakan sumber dari segala sumber hukum yang menjadi pedoman bagi para pemeluknya. Hal ini berarti bahwa di dalam Al Qur’an terkandung berbagai ajaran dan batasan tentang tindakan atau tingkah laku manusia.

Selain Al Qur’an, Sunnah juga merupakan sumber hukum atau ajaran dalam Islam. Dalam hal ini, Sunnah menempati urutan kedua sesudah Al Qur’an. Sunnah merupakan penjelasan operasional dari nilai atau prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al Qur’an atau dengan kata lain merupakan model pengaktualisasian dari Al Qur’an dalam konteks kehidupan nyata. Tidak diragukan lagi bahwa semua perkataan, perbuatan, pembiaran dan semua aktivitas Rasulullah SAW merupakan model dan teladan yang bisa dan harus diteladani oleh semua manusia, sebab beliau adalah satu-satunya utusan sebagai “rohmatan lil ‘alamien”.

Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya adalah sebagai berikut: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan pada mereka dan supaya mereka memikirkannya.”(QS.16:44)

Dengan demikian, Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua yang merupakan penjelasan rinci dari sumber pertama harus menjadi landasan dan rujukan dalam memecahkan persoalan dalam berbagai segi kehidupan. Harus diyakini bahwa bimbingan dan arahannya mampu mengantarkan manusia pada kesuksesan dan kebahagiaan lahir batin dan dunia akhirat.

Selain Al Qur’an dan As Sunnah, dalam Islam juga dikenal Ijtihad sebagai dasar dalam menetapkan suatu hukum. Hal ini disebabkan tidak seluruh persoalan yang dihadapi manusia mampu dijawab atau diselesaikan dengan Al Qur’an maupun Sunnah Nabi SAW, sehingga perlu penafsiran yang mendalam untuk dapat memutuskan persoalan tersebut.

Penyebutan ketiga sumber hukum yaitu Al Qur’an, Sunnah dan Ijtihad secara berurutan menunjukkan urutan kedudukan dan jenjang pengaplikasiannya. Yakni apabila ditemukan suatu masalah yang memerlukan pemecahan, maka pertama-tama dicari dalam Al Qur’an; jika tidak ditemukan dalam Al Qur’an maka dicari dalam As Sunnah dan akhirnya dicari dengan Ijtihad, baik melalui musyawarah untuk mendapatkan Ijma’ (kesepakatan umum) maupun melalui Qiyas (penganalogian).

Hal ini sesuai dengan dialog antara Rasulullah SAW dengan Mu’adz bin Jabal waktu Muadz diangkat sebagai gubernur Yaman.

Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana caranya kamu memutuskan masalah apabila kepadamu diajukan suatu perkara?” Muadz menjawab: "Saya akan memutuskan dengan kitab Allah SWT.” Rasul bersabda: “Kalau hukum itu tidak ada dalam kitab Allah SWT?” Muadz berkata: “Saya akan putuskan dengan Sunnah Rasul.“ “Jika kamu tidak menemukan dalam Sunnah Rasul?” tanya Rasulullah SAW lebih lanjut. “Saya akan berijtihad dengan pikiran saya dan saya tidak akan membiarkannya,” jawabnya. Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya sambil berkata, “Alhamdulillah, Allah SWT telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah SAW sesuai dengan apa yang diridloi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi).[22]

Jadi jelaslah bahwa sebagaimana sumber akhlak maka sumber pendidikan akhlak adalah Al Qur’an, As Sunnah dan Ijtihad.

c. Tujuan Pendidikan Akhlak

Di kalangan ahli filsafat etika, tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan sesuatu atau tidak melakukannya terkenal dengan summum bukmun yang dalam bahasa Arab disebut Al Ghayyah atau Al Khoirul Kulli. Adapun tujuan yang akan dicapai manusia dengan perilakunya tersebut adalah mencapai kebahagiaan. Demikian pula dengan etika atau ilmu akhlak, tujuan yang hendak dicapai secara umum adalah kebahagiaan. Di dalam Islam tujuan akhlak didasarkan pada pencapaian kebahagiaan, hanya saja kebahagiaan yang ingin dicapai dari akhlak Islam adalah kebahagiaan yang hakiki dan bukan kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan sejati yang dimaksud dalam akhlak Islam adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat.[23]

Pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan Islam. Tujuan moralitas merupakan terminal akhir dari perjalanan panjang proses pendidikan. Tujuan pendidikan akhlak adalah untuk membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam perkataan dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku dan perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci.[24]

Pendidikan akhlak bertujuan memberikan advis bagi yang mau menerimanya tentang jalan-jalan yang membentuk pribadi mulia yang dihiasi oleh akhlaqul karimah.[25] Pendidikan akhlak juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai yang jahat.[26]

Menurut Abdul Rozak Zaidan, sebenarnya baik sastra maupun agama, keduanya merupakan bidang kehidupan manusia yang bersifat rohaniah. Bedanya yang pertama menyajikan pengalaman imajinatif, sedangkan yang kedua menuntut pengalaman yang kreatif dan konsisten (istiqomah). Pada dasarnya, hasil yang dituju dalam beberapa hal adalah sama, yakni kekayaan rohaniah, kekayaan batin yang mutlak diperlukan dalam menggumuli hidup dan kehidupan ini.[27]

Pada hakikatnya sastra merupakan ungkapan sekaligus pengabadian pengalaman pengarangnya. Dengan karyanya itu, seorang pengarang bermaksud agar pembacanya dapat pula merasakan apa yang dialaminya tersebut, karena menurut persepsinya apa yang dialaminya itu memiliki nilai-nilai yang amat berguna bagi kehidupan manusia pada umumnya. Dengan tidak mengurangi fungsinya sebagai hiburan, pengarang dapat memasukkan nilai-nilai yang diyakininya. Nilai-nilai ini sedikit banyak dapat mempengaruhi pembaca. Maka hendaknya nilai-nilai tersebut menjadi renungan sekaligus dapat dijadikan pengetahuan atau pedoman dalam memecahkan masalah yang dihadapi pembaca dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, karya sastra merupakan sebuah cerita yang mengandung tujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca disamping adanya tujuan estetik. Melalui cerita itu, pembaca secara tidak langsung dapat belajar merasakan dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang. Hal itu disebabkan, cerita fiksi atau karya sastra tersebut akan mendorong pembaca untuk ikut merenungkan masalah hidup dan kehidupan. Karena itu, karya sastra sering dianggap dapat menjadikan manusia lebih arif atau dapat dikatakan "memanusiakan manusia".

Jadi jelaslah bahwa tujuan penciptaan karya sastra sejalan dengan tujuan pendidikan akhlak, karena pada dasarnya karya sastra bertujuan untuk mempengaruhi pembaca agar lebih arif serta bijaksana, baik dalam bersikap maupun bertindak.

d. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak

Akhlak merupakan sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di atas bumi. Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagai sumber nilainya serta Ijtihad sebagai metode berpikir Islam. Pola sikap dan tindakan manusia tersebut mencakup pola-pola hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia (termasuk dengan dirinya sendiri) dan dengan alam.[28] Dengan demikian ruang lingkup akhlak mencakup pola hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan Rasulullah SAW, pola hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan keluarga serta pola hubungan manusia dengan masyarakat.[29]

1) Pola hubungan manusia dengan Allah SWT.

Termasuk dalam bahasan ini adalah mentauhidkan Allah SWT dan menghindari syirik, bertaqwa kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya melalui berdoa, berdzikir di waktu siang maupun malam, baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan bertawakkal kepada-Nya.

2) Pola hubungan manusia dengan Rasulullah SAW.

Pola manusia dengan Rasulullah SAW mencakup hal di antaranya menegakkan sunnah Rasul, menziarahi kuburnya di Madinah dan membacakan shalawat.

3) Pola hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Yang termasuk pola hubungan manusia dengan dirinya sendiri di antaranya yaitu menjaga kesucian diri dari sifat rakus dan mengumbar nafsu, mengembangkan keberanian (syaja’ah) dalam menyampaikan hak, menyampaikan kebenaran dan memberantas kedzoliman. Mengembangkan kebijaksanaan dengan memberantas kebodohan dan jumud, bersabar tatkala mendapat musibah dan dalam kesulitan, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, rendah hati atau tawadlu’ dan tidak sombong, menahan diri dari melakukan larangan-larangan Alla atau iffah, menahan diri dari marah walaupun hati tetap dalam keadaan marah, memaafkan orang, jujur atau amanah dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah diperoleh dengan susah payah atau qona’ah.

4) Pola hubungan manusia dengan keluarga.

Pola hubungan dengan keluarga meliputi hal-hal seperti: berbakti kepada orang tua atau birrul walidain, baik dengan tutur kata, pemberian nafkah ataupun doa; memberi bantuan materiil ataupun moral pada karib kerabat; suami memberikan nafkah kepada istri, anak dan anggota keluarga lain, suami mendidik istri dan anak agar terhindar dari api neraka serta istri harus taat kepada suami.

5) Pola hubungan manusia dengan masyarakat.

Pola hubungan dengan masyarakat meliputi hubungan dengan masyarakat dalam konteks kepemimpinan, yaitu pola-pola hubungan seperti: menegakkan keadilan; berbuat ihsan; menjunjung tinggi musyawarah, memandang kesederajatan manusia dan membela orang-orang lemah; mentaati pimpinan dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan kepemimpinan. Sementara sebagai anggota bermasyarakat, perlu menjunjung tinggi ukhuwah dalam se-iman dan ukhuwah kemanusiaan, saling tolong menolong, pemurah dan penyantun, menepati janji, saling nasihat dalam kebenaran dan ketaqwaan.

e. Metode Pendidikan Akhlak

Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan akhlak.[30] Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada beberapa metoda atau cara yang dapat ditempuh. Menurut Athiyah al-Abrosyi, ada beberapa metode yang dapat ditempuh dalam pendidikan moral dan akhlak Islam, antara lain sebagai berikut:[31]

1) Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan manfaat dan bahaya-bahayanya, dimana pada murid dijelaskan hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak, menuntun kepada amal-amal baik, mendorong mereka berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Untuk pendidikan moral ini dipergunakan sejak-sejak, syair-syair, Oleh karena ia mempunyai gaya musik, ibarat-ibarat yang indah, rythme yang berpengaruh dan kesan yang dalam yang ditimbulkannya dalam jiwa. Dapat kita lihat buku-buku dalam bidang sastra, sejarah yang penuh dengan kata-kata berkhitmat, wasiat-wasiat, petunjuk-petunjuk berguna.

2) Pendidikan akhlak secara tidak langsung, yaitu dengan jalan sugesti, seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmat kepada anak-anak, memberikan nasehat-nasehat dan berita-berita berharga, mencegah mereka membaca sajak-sajak yang kosong. Tidaklah mengherankan, karena ahli-ahli pendidikan dalam Islam yakin akan pengaruh kata-kata berhikmat, nasehat-nasehat dan kisah-kisah nyata itu dalam pendidikan akhlak anak-anak.

3) Mengambil manfaat dari kecederungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak. Sebagai contoh mereka memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan gerak-gerik orang-orang yang berhubungan erat dengan mereka. Oleh karena itu maka filsof-filsof Islam mengharapkan dari setiap guru supaya mereka itu berhias dengan akhlak yang baik, mulia dan menghindari setiap yang tercela.

Menurut Miqdad Zaljan, salah satu metode pendidikan membentuk akhlak anak adalah melalui pembiasaan.[32] Pembiasaan memberikan manfaat bagi anak. Karena pembiasaan berperan sebagai efek latihan yang terus menerus, anak akan lebih terbiasa berperilaku dengan nilai-nilai.

Pembiasaan harus diikuti dengan pencerahan. Pencerahan bertujuan untuk mengokohkan iman dan akhlak atas dasar pengetahuan, agar orang yang dididik tetapi pada jalan yang benar, tidak mudah terguncang atau terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari Barat maupun Timur. Disamping itu, pembiasaan juga harus memproyeksikan terbentuknya mental dan akhlak yang lemah lembut untuk mencapai nilai-nilai akhlak.

Cara lain yang dapat ditempuh dalam pembinaan akhlak adalah melalui keteladanan.[33] Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, instruksi dan larangan, sebab tabi’at jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup hanya dengan seorang guru mengatakan “kerjakan ini” dan “jangan kerjakan itu”. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladanan yang baik dan nyata.

Selain itu pembinaan akhlak dapat pula ditempuh dengan cara senantiasa menganggap diri sebagai yang banyak kekurangannya dari pada kelebihannya. Dalam hal ini Ibnu Sina mengatakan jika seseorang menghendaki dirinya berakhlak utama, hendaknya ia lebih dahulu mengetahui kekurangan dan cacat yang ada dalam dirinya dan membatasi sejauh mungkin untuk tidak berbuat kesalahan, sehingga kecacatannya itu tidak terwujud dalam kenyataan.[34] Namun ini bukan berarti bahwa ia menceritakan dirinya sebagai orang yang paling bodoh, paling miskin dan sebagainya dihadapan orang-orang, dengan tujuan merendahkan orang lain.

Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia berbeda-beda menurut perbedaan tingkat usia. Pada usia kanak-kanak misalnya, lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat rekreatif dan bermain. Untuk itu ajaran akhlak dapat disajikan dalam bentuk permainan.

2. Karya Sastra dan Novel

Penelitian yang penulis lakukan dapat dikategorikan sebagai kritik sastra. Kritik sastra dimaksudkan untuk menghakimi karya sastra, untuk memberi penilaian dan memberi keputusan bermutu atau tidaknya suatu karya sastra yang sedang diteliti.[35] Dalam kaitannya dengan penelitian pendidikan, penulis mencoba menganalogikan kritik sastra kepada kritik pendidikan, dalam arti penulis berusaha meneliti teks-teks novel yang mengandung nilai-nilai pendidikan, khususnya pendidikan akhlak.

Pada dasarnya hasil budaya suatu bangsa itu tidak lepas dari pengaruh jamannya, begitu juga dengan karya-karya sastra. Karena karya sastra lahir di tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang dan merupakan refleksi terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya.[36]

Menurut Andre Hardjana, karya sastra merupakan ungkapan dari apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah direnungkan dan apa yang telah dirasakan mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung dan kuat. Jadi karya sastra merupakan perenungan kehidupan lewat bahasa.[37]

Dan menurut Sapardi Djoko Damono, sastra dipandang sebagai cermin masyarakat.[38] Keberadaan sastra yang demikian itu telah menjadikan karya sastra dapat diposisikan sebagai dokumen sosial budaya atau sebagai fakta sosial, karena karya semacam itu merupakan hasil aktivitas yang obyeknya adalah alam semesta dan kelompok manusia sekaligus.

Karya sastra merupakan suatu karya yang sarat dengan ajaran etika, moral, atau akhlak yang tinggi. Maka studi mengenai karya sastra dapat memberikan peranan yang sangat berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu humaniora dan dalam pengembangan kebudayaan nasional Indonesia dan alam pembangunan pada umumnya. Dengan demikian, meneliti hasil karya sastra akan dapat diambil ajaran-ajaran moral yang mampu menjadi pedoman dan pegangan masyarakat pada masanya; bahkan masa kini dan yang akan datang.[39]

Hal ini dikarenakan proses penciptaan kesusastraan melibatkan akar-akar kebudayaan yang berupa panca indra, imajinasi, intelektualitas, cinta, nafsu, naluri, darah, roh serta hidayah kefitrian dari Zat Yang Maha Tinggi, maka akar-akar kebudayaan tadi akan meramu fenomena sosial yang yang ada dan menghasilkan kesusastraan.[40]

Kalau kita melihat dalam konteks Islam, arah pendidikan terdiri dari intelektualitas atau kecerdasan, moralitas dan profesionalitas.[41] Dalam hal ini Islam sangat memberi tekanan pada aspek moralitas (akhlak) di samping aspek-aspek lainnya, karena yang menjadi titik tolak dan titik tuju dari pendidikan adalah seorang manusia. Sebagaimana disebutkan Abdur Rahman Shaleh Abdullah, bahwa manusia merupakan inti dalam pendidikan.[42]

Arah pendidikan sebagaimana disebutkan di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam pada dasarnya tidaklah menolak ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi sebaliknya mengambil sikap terbuka terhadapnya. Seperti diungkap oleh Halkin bahwa sikap kaum muslimin terhadap ilmu pengetahuan ialah spontan, menghargai, mengadaptasi dan memanfaatkan dengan selalu menjunjung tinggi harkat dan moralitas kemanusiaan.[43]

Kesusastraan termasuk di dalamnya novel merupakan suatu cara mengungkapkan gagasan, ide, pemikiran dengan gambaran-gambaran pengalaman. Dengan begitu sebuah karya sastra berusaha menggugah kesadaran penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan serta ingin memberikan pengalaman imajinatif bagi pembacanya. Inilah yang menyebabkan suguhan gambaran pengalaman yang disajikan sebuah karya sastra membuat pembacanya ingin secepat mungkin menghabiskan bacaan tersebut.

Sehingga benar apa yang diungkapkan oleh Jakob Sumardjo dalam sebuah artikelnya yang berjudul Pendidikan Nilai dan Sastra, bahwa:

“Kiranya tidak berlebihan apabila sastra dapat dipakai sebagai alat pendidikan nilai-nilai kehidupan atau setidak-tidaknya mempersoalkan nilai-nilai yang dipandangnya kurang sesuai……………muatan nilai yang dikandung karya sastra pun seperti halnya novel mengandung banyak perbedaan. Ada karya sastra yang ditulis untuk mempertegas nilai-nilai, mempersoalkan atau menggugat nilai-nilai yang berlaku. Dan dari tiga tipe muatan nilai-nilai (entah moral, religi, sosial, kemanusiaan) dalam sastra tadi, hanya jenis karya yang mengandung penegasan nilai dan pendayagunaan nilai saja yang dapat diberikan pada anak-anak sekolah untuk dibuka. Sedangkan yang mengandung pendobrakan nilai atau pemberian alternatif nilai hanya dapat diberikan pada anak didik yang sudah mampu berpikir kritis, yang siap sebagai seorang terpelajar.”[44]

Novel merupakan salah satu karya sastra yang bersifat fiktif. Novel berasal dari bahasa Itali yaitu novella yang berarti sebuah barang baru yang kecil.[45] Novel juga dapat diartikan sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek.[46]

Sebuah novel merupakan totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik.[47] Sebagai sebuah totalitas, novel dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

Unsur-unsur pembangun sebuah novel, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik.[48] Kedua unsur ini sering disebut para kritikus dalam mengkaji atau membicarakan karya sastra pada umumnya.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur interinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang turut serta membangun cerita. Unsur intrinsik ini diantaranya adalah peristiwa, plot, cerita, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa. Kepaduan berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud.

Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangunan cerita sebuah karya sastra, namun sendiri, tidak ikut menjadi bagian di dalam karya sastra itu sendiri. Walau demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangunan cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur ekstrinsik sebuah novel haruslah dipandang sebagai sesuatu yang penting. Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya, bagaimanapun akan membantu dalam hal pemahaman makna karya itu, mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosongan budaya.

Sebagaimana unsur-unsur intrinsik, unsur ekstrinsik juga terdiri dari sejumlah unsur, antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Artinya unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkan. Unsur ekstrinsik berikutnya adalah psikologi, baik psikologi pengarang, psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra, dan hal itu merupakan unsur ekstrinsik. Disamping itu juga masih ada unsur yang lain, misalnya pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni yang lain dan sebagainya.

Novel merupakan salah satu genre karya sastra, sedangkan karya sastra adalah salah satu cabang kesenian. Kesenian sendiri hakekatnya adalah bagian dari kebudayaan yang merupakan hasil kreativitas manusia dalam rangka meningkatkan harkat dan martabatnya. Dengan demikian, karakteristik yang dimiliki kesenian khususnya dan kebudayaan pada umumnya juga berlaku bagi karya sastra, termasuk novel.

Fungsi kesenian (sastra) menurut Horace adalah dulce et utile artinya manis dan bermanfaat.[49] Unsur dulce, manis, menyenangkan, muncul karena salah satu katakteristik kesenian (termasuk sastra) adalah dominannya aspek estetik, sedangkan adanya unsur utile atau kebermanfaatan sastra tidak lepas dari adanya ajran-ajaran moral yang terdapat di dalamnya.

Fungsi sastra dalam masyarakat bisa bergeser dari zaman ke zaman dan berbeda-beda bagi bermacam-macam bangsa; pada kenyataannya sastra dalam masyarakat dipergunakan dalam berbagai cara. Menurut Bradburry, ada yang mempergunakannya untuk pendidikan, ada yang mempergunakannya untuk pelarian, ada yang untuk mendapat keterangan tentang dunia luas ini dan ada yang membaca sastra karena sastra mengandung dan menghargai nilai-nilai.[50]

Dalam sebuah novel atau karya fiksi, kita tak hanya menemukan satu nilai saja, tetapi bermacam-macam nilai yang akan disampaikan oleh pengarangnya, seperti halnya isi karya sastra akan sangat bergantung kepada pengarangnya, baik itu latar belakang pendidikan, pengalaman, pengetahuan ataupun keyakinannya. Sebuah novel menawarkan model kehidupan mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangan pengarang. Dan melalui cerita, sikap dan tingkah laku para tokohnya itu, pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan yang disampaikan. Sehingga jika latar belakang seorang pengarang itu dari pendidikan atau keyakinan keagamaan tertentu, maka sudah sepantasnya jika iapun berusaha memasukkan pengetahuan dan pengalamannya itu ke dalam karya yang ia ciptakan.

Dalam pandangan romantik, sastrawan diharapkan untuk memimpin pembacanya, ia harus menciptakan karya yang dimaksudkan untuk mengubah atau merombak keadaan masyarakat yang dianggapnya tidak beres.[51] Dalam hal demikian itu, karya sastra haruslah mengandung unsur-unsur pembaruan sosial. Dilihat dari satu segi, seorang novelis memang dapat berperan sebagai seorang nabi atau pendeta; karya sastranya dapat berfungsi sebagai perombak atau pengubah keadaan yang dianggapnya buruk dalam masyarakat. Dalam novel-novel mereka berbagai pandangan yang berlaku dalam masyarakat seperti takhayul, kebodohan dan fanatisme agama ditampilkan sebagai hal-hal yang negatif, yang harus dirombak atau dihindari. Sementara itu, nilai-nilai yang dianggap positif, yakni yang erat kaitannya dengan kemajuan, pendidikan dan pengetahuan, ditampilkan dengan harapan bisa mengubah pandangan yang sesat dalam masyarakat.

Ditinjau dari segi lain, pandangan “seni sebagai hiburan” beranggapan bahwa karya seni dimaksudkan untuk menghibur pembaca saja. Dalam pandangan ini, sastrawan berperan sebagai penghasil barang hiburan; ia tidak mempunyai kewajiban di luar itu. Dengan demikian, tugas sebagai perombak atau pembaru tetap dipertahankan dengan cara menciptakan cerita yang bisa menghibur pembaca.

Sebagai sebuah karya imajiner, novel menawarkan pesan moral yang bersifat universal, biasanya akan diterima secara universal pula.[52] Pesan moral sastra lebih memberat pada sifat kodrati manusia yang hakiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan dan dihakimi oleh manusia. Kebenaran yang ada di dunia nyata yang ada dalam karya sastra tidak harus sejalan dengan kebenaran yang ada di dunia nyata[53], karena pesan moral sastra memang tidak harus sejalan dengan hukum agama, walau tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak sekali fiksi yang menawarkan pesan moral keagamaan atau religius.

Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis Abdul Rozak Zaidan, bahwa sebenarnya baik sastra maupun agama keduanya merupakan bidang kehidupan manusia yang bersifat rohaniah. Bedanya yang pertama menyajikan pengalaman imajinatif, sedangkan yang kedua menuntut pengalaman yang kreatif dan konsisten (istiqomah). Pada dasarnya hasil yang dituju dalam beberapa hal adalah sama, yakni kekayaan rohaniah, kekayaan batin yang mutlak diperlukan dalam menggumuli hidup dan kehidupan ini.[54]

Alasan ini pula yang mendasari penulisan penulis bahwa sebenarnya karya fiksi atau novel dapat dijadikan sebagai penyampaian pesan dan nilai (pendidikan) terhadap pembacanya. Dengan tidak mengurangi fungsinya sebagai hiburan, pengarang dapat menanamkan nilai pendidikan (dalam hal ini Islam sebagai latar belakang agama), guna mencapai tujuan dari suatu proses pendidikan. Tujuan tersebut merupakan keinginan manusia dalam menjaga hubungannya dengan diri sendiri, sesama manusia (masyarakat), alam sekitar dan dengan Tuhannya. Oleh karena itu diperlukan pula kesadaran seorang pengarang dengan sungguh-sungguh dala menulis suatu karya. Selain itu juga adanya tanggung jawab dan harapan kepada pembacanya akan perubahan ke arah yang positif dengan mengambil pelajaran dan manfaat terhadap apa yang telah dibacanya.

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil ketika seorang pembaca suatu karya sastra, dalam hal ini novel, yaitu dapat dijadikan pengisi waktu luang, pemberian atau pemerolehan hiburan, untuk mendapatkan informasi, sebagai sebagai media pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan dan juga memberikan pengetahuan nilai sosio kultural dari zaman atau masa karya sastra itu dilahirkan.[55]

Dilihat dari beberapa manfaat di atas, maka karya sastra dapat menjadi sumber pengetahuan dalam memahami bermacam nilai kehidupan. Nilai-nilai tersebut akan berguna bagi manusia dalam hubungannya dengan sesama makhluk dan Tuhannya. Adapun nilai (pendidikan) Islami yang ada dalam sebuah novel menurut Sujarwanto dalam sebuah artikelnya tentang Nilai-nila Islam dalam Novel Indonesia, dibedakan menjadi 4, yaitu:

a. Nilai Islam sebagai latar atau landas cerita. Pada tataran ini nilai Islam merupakan nuansa-nuansa ke-Islaman yang secara substansi maupun isi tidak mempengaruhimjalan cerita ataupun konflik sentral tokoh dalam cerita.

b. Nilai Islam sebagai ajaran yang memberikan konsepsi aqidah, muamalah dan ibadah. Di sini Islam masuk ke dalam novel bisa berupa unsur, corak atau warna, bahkan mungkin propaganda.

c. Nilai Islam sebagai penghayatan. Dalam konsep ini Islam masuk ke dalam novel bisa merupakan determinan bagi perubahan tokoh-tokoh cerita seperti dalam konflik atau secara lebih luas Islam sebagai sistem sosial yang tercermin dalam jalan cerita.

d. Nilai Islam sebagai paradigma pemikiran atau konsepsi. Pada tataran ini nilai Islam dalam novel tidak lagi bersifat eksplisit, akan tetapi substansinya dapat dirunut kepada sumber-sumber Islam yang otentik.

Walaupun demikian, sebuah novel terkadang tidak hanya mengandung satu pemahaman nilai. Bisa jadi nilai yang ada dalam novel hanya sebagai latar dalam cerita, sebagai ajaran, penghayatan atau juga sebagai paradigma pemikiran. Bisa jadi juga keempat pemahaman nilai tersebut ada dalam suatu novel.

Ajaran moral yang terkandung dalam sebuah karya sastra tidak terlepas dari pribadi pengarang sebagai pencipta karya tersebut. Hal ini dikarenakan karya sastra merupakan media komunikasi pengarang untuk menyampaikan pendapat, pandangan dan penilaiannya terhadap sesuatu yang terjadi dalam di lingkungannya. pandangan, pendapat dan penilaian yang tertuang dalam ajaran moral tersebut dengan sendirinya terkait dengan pribadi pengarang, termasuk keyakinan dan agama yang dianutnya. Pengarang beragama Islam akan lebih berhasil bila mencipta karya yang sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya. Demikian pula pengarang beragama lain. Hal ini dapat dipahami, mengingat seseorang (sastrawan) tidak ingin mengungkapkan sesuatu yang tidak dikuasainya atau di luar kemampuannya.

Jenis ajaran moral yang terdapat dalam karya sastra sangat beragam, seluas permasalahan kehidupan manusia di muka bumi. Namun, secara garis besar permasalahan tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu permasalahan hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan permasalahan hubungan manusia dengan makhluk lain di sekitarnya. Hal ini berlaku pula dalam agama Islam, yang dicerminkan dalam hubungan hablumminallah dan hablumminannaas. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al Hujurat ayat 13, yang berbunyi:

ياأيها الناس إنّا خلقناكم من ذكر وأنثى وججعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إنّ أكرمكم عند الله أتقاكم إنّ الله عليم خبير

Artinya: “Wahai sekalian manusia, sungguh Kami telah menjadikan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.[56]

Secara umum ada dua teknik penyampaian ajaran moral yang dapat digunakan pengarang dalam karyanya. Kedua teknik ajaran moral tersebut adalah dengan penggunaan aktivitas tokoh dan pendeskripsian alam. Penggunaan aktivitas tokoh dalam penyampaian ajaran moral dapat berupa dialog atau percakapan, perbuatan atau tingkah laku dan pikiran tokoh. Sedangkan penggunaan deskripsi alam dalam penyampaian ajaran moral berupa deskripsi alam suatu tempat.

Jika dikembalikan pada konsep Horace tentang fungsi sastra (seni) sebagai dulce et utile, maka kebermanfaatan karya sastra harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat (penikmat sastra), termasuk remaja atau pelajar sebagai bagian dari masyarakat. Dengan demikian, secara tidak langsung, karya sastra dapat membentuk moral siswa atau generasi muda, sehingga diharapkan mereka dapat bertindak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam agama dan masyarakat.

3. Pendidikan Akhlak dalam Karya Sastra/Novel

Karya sastra merupakan hasil artefak kebudayaan manusia yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Karya sastra dapat berupa naskah-naskah kuno, manuskrip, maupun prosa seperti novel atau puisi.

Novel merupakan genre sastra yang biasanya berisi tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dalam novel banyak ditemukan permasalahan kemanusiaan, dari permasalahan kehidupan yang sepele sampai kepada permasalahan kehidupan yang rumit, yang ditawarkan oleh pengarang kepada pembacanya. Novel merupakan hasil kontemplasi pengarang atau hasil dialog pengarang dengan dunianya yang mengandung pemikiran-pemikiran atau pengetahuan-pengetahuannya tentang kehidupan dan kemanusiaan. Permasalahan yang ditawarkan pengarang tersebut biasanya disebut amanat atau pesan moral. Dinamakan demikian, karena dalam karya yang dihasilkan oleh pengarang tersebut banyak ditemukan nilai-nilai moral yang layak direnungkan oleh pembaca, sehingga nilai-nilai tersebut sedikit banyak dapat mempengaruhi pembaca. Nilai-nilai moral yang ada dalam karya sastra tersebut hendaknya menjadi renungan sekaligus dapat dijadikan pengetahuan atau pedoman dalam memecahkan masalah yang dihadapi pembaca dalam aktivitas sehari-hari.

Ajaran moral (pendidikan akhlak) yang terkandung dalam karya sastra tidak dapat lepas dari pribadi pengarang sebagai pencipta karya tersebut. Hal ini dikarenakan karya sastra merupakan media komunikasi pengarang untuk menyampaikan pendapat, pandangan dan penilaiannya terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Pandangan, pendapat dan penilaian yang tertuang dalam ajaran moral tersebut dengan sendirinya terkait dengan pribadi pengarang, termasuk keyakinan dan agama yang dianutnya. Pengarang yang beragama Islam akan lebih berhasil mencipta karya yang sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya. Demikian pula pengarang yang beragama lain, akan lebih berhasil bila mencipta karya yang sesuai dengan agama yang dianutnya. Hal ini dapat dipahami, mengingat seseorang (sastrawan) tidak mungkin mengungkapkan sesuatu yang tidak dikuasainya atau diluar kemampuannya.

Ajaran moral (pendidikan akhlak) yang terdapat dalam karya sastra sangat beragam, seluas permasalahan kehidupan manusia di muka bumi. Namun secara garis besar permasalahan tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu permasalahan hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan dengan makhluk lain di sekitarnya. Hal ini berlaku pula dalam agama Islam yang dicerminkan dengan hubungan hablumminallah dan hablumminannas.

Sesuai dengan konsep Horace tentang fungsi sastra sebagai dulce et utile (manis dan bermanfaat), maka kebermanfaatan sastra harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat (penikmat sastra), termasuk remaja atau pelajar. Dengan demikian, secara tidak langsung karya sastra atau novel dapat membentuk moral siswa atau generasi muda sehingga diharapkan mereka dapat bertindak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat, melalui pembacaan dan perenungan mereka terhadap karya sastra/novel.

Ajaran akhlak dalam novel dapat dijumpai dalam aktivitas yang dilakukan para tokoh, dialog yang terjadi antar tokoh, maupun pendeskripsian alam yang dilakukan oleh pengarang. Ajaran akhlak ini dapat bersifat tersurat (jelas) sehingga mudah dipahami dan dimaknai oleh pembaca, dan juga bersifat tersirat (samar) sehingga memerlukan perenungan yang mendalam.

Jadi pada dasarnya pesan moral atau amanat dalam novel dapat dianalogikan sebagai nilai pendidikan akhlak; karena antara keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu mempengaruhi pembaca untuk melakukan tindakan sesuai dengan norma yang berlaku dalam agama dan masyarakat.

G. Tinjauan Pustaka

Penelitian ini mengambil novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari sebagai obyek penelitian. Sejauh pengamatan penulis belum ada yang mengadakan penelitian terhadap novel ini.

Dari beberapa penelitian yang peneliti ketahui, ada beberapa tulisan yang meneliti tentang karya sastra, baik karya sastra yang berupa naskah-naskah kuno, novel, maupun lakon-lakon cerita yang cukup digemari oleh masyarakat, terutama masyarakat Jawa.

Sedangkan penelitian yang membahas tentang lakon cerita di antaranya adalah:

1. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Wayang Purwo; Analisis dalam Lakon Bima Suci, yang ditulis oleh Zainuddin, Fakultas Tarbiyah tahun 2001. Pembahasan pada skripsi ini hampir sama dengan skripsi sebelumnya, tetapi obyek kajiannya berbeda, sedang sudut pandang yang digunakan sama juga dengan skripsi sebelumnya, yaitu sama-sama menggunakan sudut pandang pendidikan akhlak. Pada skripsi ini dibahas mengenai nilai-nilai pendidikan akhlak yang ada dalam wayang kulit purwo, khususnya lakon Bima Suci.

2. Ajaran Akhlak dalam Lakon Jaka Tarub pada Kesenian Kentrung, Blitar, Jawa Timur, yang ditulis oleh Rahmah Wahyuningrum, Fakultas Tarbiyah, Tahun 2001. Pembahasan pada skripsi ini diawali dengan sinopsis cerita Lakon Jaka Tarub dan kemudian dibahas tentang unsur-unsur pendidikan akhlak apa saja yang ada dalam Lakon Jaka Tarub tersebut.

Sedangkan penelitian terhadap novel, khususnya novel karya Ahmad Tohari, sejauh pengamatan penulis ada tiga pembahas, yaitu:

1. Pesan-pesan Dakwah dalam Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, yang ditulis oleh Asih Hidayatun, Fakultas Dakwah pada tahun 1990. Skripsi ini berisi pesan-pesan dakwah yang ada dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari yang meliputi ajaran Islam berupa; keimanan (tauhid), ibadah serta akhlak.

2. Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang ditulis oleh Susiani, Fakultas Tarbiyah tahun 2001. Skripsi ini membahas unsur-unsur pendidikan Islam apa saja yang ada dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan dua novel yang lain, yaitu novel yang berjudul Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala, yang merupakan kelanjutan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam penelitian ini diungkapkan secara menyeluruh tentang aspek-aspek Pendidikan Islam yang ada dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, meliputi aspek pendidikan keimanan (aqidah), akhlak, ibadah dan muamalah.

3. Nilai-nilai Pendidikan Aqidah Ahklak dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari yang ditulis oleh Puji Astuti, Fakultas Tarbiyah pada tahun 2000. Dalam skripsi ini dibahas tentang nilai-nilai pendidikan aqidah akhlak apa saja yang ada dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Pembahasan pada skripsi ini terbatas pada uraian tentang pendidikan aqidah akhlak secara global yang meliputi konsep-konsep tentang pengertian aqidah dan akhlak, cara-cara memperkuat keimanan, tingkat-tingkat keimanan manusia dan juga faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penanaman nilai-nilai akhlak. Dilanjutkan dengan analisis tentang aspek-aspek pendidikan aqidah akhlak yang terkandung dalam novel Bekisar Merah, disamping teknik penyampaian nilai-nilai pendidikan aqidah akhlak yang digunakan oleh Ahmad Tohari dalam novel Bekisar Merah ini.

Demikian tadi beberapa literatur yang dapat peneliti ketahui yang berhubungan dengan sastra dan juga berhubungan dengan penelitian pada skripsi ini. Penelitian yang berjudul Studi atas Novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini berusaha meneliti lebih jauh kandungan novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari ditinjau dari segi pendidikan akhlak.

H. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat library reseach atau kajian kepustakaan, yaitu teknik penelitian yang mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai macam materi yang terdapat dalam kepustakaan, baik berupa buku, surat kabar, majalah jurnal dan beberapa tulisan lain yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Adapun sumber primer dalam penelitian ini adalah novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari. Sumber sekundernya adalah novel-novel karya Ahmad Tohari yang lain, di samping buku-buku tentang sastra yang mendukung penelitian ini serta buku-buku tentang pendidikan Islam. Penelitian ini berusaha mengkaji nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

2. Penentuan Subyek dan Obyek Penelitian

a. Subyek Penelitian.

Yang menjadi subyek penelitian ini adalah karya novel Lingkar Tanah Lingkar Air dan pengarangnya yaitu Ahmad Tohari.

b. Obyek Penelitian.

Yang akan menjadi obyek dalam penelitian ini meliputi latar belakang penulisan novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari, isi dan pesan novel, dan bentuk-bentuk penyampaian nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

3. Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dan pendekatan hermeunitik. Filologi adalah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesusastraan dan kebudayaan.[57] Pendekatan filologi digunakan dalam menemukan kata-kata yang merujuk pada pendidikan akhlak.

Hermeunitik menurut Teeuw adalah ilmu atau teknik memahami karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.[58] Menurut Teeuw, cara kerja hermeunitik untuk penafsiran karya sastra dilakukan dengan pemahaman keseluruhan berdasarkan unsur-unsurnya, dan sebaliknya, pemahaman unsur-unsur berdasarkan keseluruhannya.

Dalam penelitian ini, pendekatan hermeunitik digunakan dalam mengkaji nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

4. Metode Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik sebagai berikut:

a. Interview

Metode interview adalah metode pengumpulan data dengan komunikasi langsung antara peneliti atau penyelidik dengan subyek[59] atau sebuah dialog untuk memperoleh informasi. Bentuk interview yang penulis gunakan adalah interview bebas terpimpin.

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang Ahmad Tohari sebagai penulis novel dan data yang berkaitan dengan novel Lingkar Tanah Lingkar Air. Interview dilakukan dengan Ahmad Tohari sebagai penulis novel.

b. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,agenda dan sebagainya.[60] Dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi buku, novel, majalah, surat kabar dan lain-lain yang bekaitan dengan Ahmad Tohari dan hasil karyanya.

4. Metode Analisa Data

Setelah data terkumpul, maka berikutnya adalah mengadakan analisa terhadap data-data tersebut. Sedangkan metode analisa data yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode conten analisis.

Analisis ini merupakan analisis tentang isi pesan suatu komunitas.[61] Pada dasarnya analisis konten dalam bidang sastra tergolong upaya pemahaman karya sastra dari aspek ekstrinsik. Aspek-aspek yang melingkupi di luar estetika struktur tersebut dibedah, dihayati dan dibahas mendalam. Analisis konten digunakan apabila hendak mengungkap kandungan nilai tertentu dalam karya sastra. Makna dalam analisis konten, biasanya bersifat simbolis. Jadi tugas analisis konten adalah mengungkap makna simbolik yang tersamar dalam karya sastra.[62]

Analisis konten adalah analisis yang memenuhi lima syarat, yaitu;a) teks diproses secara sistematis dengan menggunakan teori yang telah dirancang sebelumnya, b) teks yang ada dicarikan unit-unit analisisnya dan dikategorikan sesuai acuan teori, c) proses analisis harus mampu menyumbangkan pada pemahaman teori, d) proses analisis mendasarkan pada deskripsi, dan e) analisis dilakukan secara kualitatif.[63] Dengan demikian, konten analisis dalam penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap pesan atau amanat yang terkandung dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari.

I. Sistimatika Pembahasan

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyusunnya dalam beberapa bab dan subbab. Untuk memudahkan pemahaman, maka dibuat sistimatika pembahasan sebagai berikut:

Dalam bab pertama terlebih dahulu diuraikan pendahuluan yang memuat penegasan istilah, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka teoritik, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistimatika pembahasan.

Bab kedua berisi biografi Ahmad Tohari, karya-karya Ahmad Tohari dan karakteristik karya-karyanya, latar belakang lahirnya novel dan sinopsisnya.

Bab ketiga berisi tentang pendidikan akhlak, meliputi pengertian akhlak dan pendidikan akhlak, sumber pendidikan akhlak, tujuan pendidikan akhlak, materi pendidikan akhlak dan nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari beserta metode yang digunakan dalam penyampaian nilai-nilai pendidikan akhlak dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air.

Bab keempat merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.


[1] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 860

[2] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000, hlm. 9-10

[3] Ibid, hal. 12

[4] Yudiono, K.S., Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya, (Jakarta: Penerbit PT. grasindo, 2003), hlm. 77

[5] Ibid, hlm. 77

[6] Ibid, hlm. 78

[7] M.Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Karya, 1987), hlm. 11

[8] DEPAG RI, Buku Pedoman Kurikulum Madrasah Tsanawiyah 1984, (Jakarta, 1989)

[9] M. Quraisy Shihab, Membumikan Al Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 241-242

[10] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 3-4

[11] Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm 98-103

[12] H.M. Arifin, M. Ed., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 132

[13] Yusufhadi Miarso, Teknologi Komunikasi Pendidikan; Pengertian dan Penerapannya di Indonesia, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 99-101

[14] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit, hlm. 2-3

[15] Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), penterjemah Farid Ma’ruf, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm. 62.

[16] Al Ghozali, Mutiara Ihya’ Ulumuddin, (Yogyakarta: Mizan, 1997), hlm. 213.

[17] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), hlm. 11

[18] Omar Muhammad At Toumy Asy Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam; terjemahan Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 174

[19] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: FIP IKIP Negeri, 1987), hlm. 15

[20] Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, penterjemah Syaiful Kamali dan Hery Noer Ali, (Semarang: Asy Syifa,1981), hlm. 174.

[21] Endang Syaifuddin Anshori, Wawasan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 32.

[22] Muslim Nurdin (dkk.), Moral dan Kognisi Islam, (Jakarta: Alfabeta, 1995), hlm. 48

[23] Ismail Thaib, Risalah Akhlak, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1984), hlm. 30-34

[24] Athiyah Al Abrosyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, penterjemah Bustami A Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 103

[25] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1983), hlm. 25

[26] Anwar Masy’ari, Akhlak Al Qur’an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), hlm. 4

[27] Abdul Rozak Zaidan, Sastra dan Agama dalam 3 Kategori Hubungan , (Horison, No. 05 Mei, 1986), hlm. 166

[28] Muslim Nurdin, (dkk.), Op. Cit, hlm.205

[29] Ibid, hlm. 205-209

[30] M. Athiyah al-Abrasyi, Op.Cit., hlm. 1

[31] Ibid., hlm. 1006-111

[32] Miqdad Yaljan, Kecerdasan Moral (Aspek Pendidikan Yang Terlupakan), penterjemah. Tulus Musthofa, (Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2003), hlm. 28.

[33] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 163.

[34] Ibnu Sina, Ilmu Akhlak, (Mesir: Dar al-Ma’arfi t.t.), hlm. 202-203.

[35] Rachmat djoko Pradopo, Kritik Sastra Modern Indonesia, (Yogyakarta: Lukman, 1988), hal. 14

[36] Andre Hardjana, Kritik Sastra; Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia, 1981), hlm. 10

[37] Ibid, hlm. 10

[38]Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sastra, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979), hlm. 3-4.

[39] Darusuprapto, Ajaran Moral dalam Sastra Suluk, (Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM, 1986), hlm. iii

[40] Dick Hartoko, Tonggak Perjalanan Budaya; Sebuah Antologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm.87

[41] Munir Mulkhan, Paradigma Intelektualitas Muslim, (Yogyakarta: Sipress, 1993), hal. 213.

[42] Abdur Rahman Shalaeh dalam Tabrani dan Samsul Arifin, Islam Pluralitas Budaya dan Politik, Refleksi Teologi untuk Aksi Keberagaman, (Jakarta: Paramadina, 1995), hal. 54

[43] Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 54.

[44] K. Kaswadi (ed.), Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, (Jakarta: Grasindo, 1993), hlm. 148-175

[45] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit, hlm. 9

[46] Ibid, hlm. 10

[47] Ibid, hlm. 22

[48] Ibid, hlm. 23

[49] Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, Terjemahan Melani Budiyanto, (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 30

[50] Sapardi Djoko Damono, Priayi Abangan; Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000), hlm. 242

[51] Ibid, hlm. 380

[52] Burhan Nurgiyantoro, Op. Cit., hlm. 322

[53] Ibid, hlm. 322

[54] Abdul Rozak Zaidan, Sastra dan Agama dalam 3 Kategori Hubungan, (Horison, No. 05 Mei, 1986), hlm.166

[55] Aminuddin, Drs., M.Pd., Pengantar Apresiasi Sastra, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), hlm. 63

[56] Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Tanjung Mas Inti Semarang), hlm. 847

[57] Siti Baroroh Baried, dkk. Pengantar teori Filologi, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985), hlm. 1

[58] A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta:Pustaka Jaya,1984), hlm. 33

[59] Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1990), hlm. 156

[60] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:Penerbit Bina Usaha, 1980), hlm. 62

[61] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hlm. 42

[62] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaaka Widyatama, 2003), hlm. 160

[63] Ibid, hlm. 162


dapatkan file lengkapnya

klik disini

 
CARA SINGKAT BELAJAR BAHASA INGGRIS segera bergabung bersama kami..!!!!